Sabtu, 06 April 2013

LAPORAN PPL INDIVIDU (STUDY KASUS)


LAPORAN MANDIRI

PELAKSANAAN   PRAKTEK  PENGALAMAN LAPANGAN MAHASISWA STRATA 1 (S-1)
UNEVERSITAS KANJURUHAN MALANG
DI
MTS. SYAFI’IYAH-BESUK KIDUL
BESUK – PROBOLINGGO











           
Laporan ini dibuat  untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan kegiatan akademik Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
FKIP Universitas Kanjuruhan Malang

Oleh :
MOH SYAIFULLAH
NPM : 090 401 090 477

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
2013
PENGESAHAN

Laporan Ini Dibuat Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Kegiatan Akademik Guna Menempuh Ujian
Praktek Pengalaman Lapangan
Di Madrasah Tsanawiyah Syafi’iyah Besuk Kidul
Besuk – Probolinggo

Disusun Oleh:
MOH SYAIFULLAH
NPM : 090 401 090 477


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN  BAHASA INGGRIS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

Telah diterima dan di setujui oleh :






Kepala Sekokah
MTs. Syafi’iyah
Besuk Kidul – Besuk




MUZAMMIL, ST

 

Pengelola Strata 1 Pendidikan Matematika
UKM
Kabupaten Probolinggo



BUALI, M. Pd

 

 


   








Mengetahui :
Ketua LP3L UKM





Drs. FITER SUHARTIN, M. Pd
 



ii
 
 







YAYSAN BAHRUL ULUM-UMAR HADI
MTS SYAFI’IYAH BESUK KIDUL-BESUK-PROBOLINGGO
Jl. Raya Besuk no :247 Besuk kidul – Besuk - Probolinggo
 

SURAT KETERANGAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, Kepala Madrasah Tsanawiyah Syafi’iyah Besuk Kidul kec. Besuk kab, Probolinggo menerangkan bahwa :

Nama                                   : Moh Syaifullah
NPM                                   : 090 401 090 477
Tempat, Tanggal Lahir        : Probolinggo, 19 November 1989
Pendidikan                          : FKIP Pendidikan Bahasa Inggris
  Universitas Kanjuruhan Malang
Alamat                                : Jalan. dr Soetomo Alassumur Kulon. Kec.   Kraksaan.  Kab. Probolinggo 67282

Adalah benar – benar telah melaksanakan praktek pengalaman lapangan (PPL) di MTs. Syafi’iyah Besuk Probolinggo Mulai Tanggal 28 Januari sampai tanggal 13 April 2013.
Demikian surat ini kami buat untuk di gunakan sebagaimana mestinya.


Besuk, 13 April 2013
Kepala Madrasah
Tsanawiyah Syafi’iyah



MUZAMMIL, ST
              NIP. -

 
 










iii
 

PERSEMBAHAN


Laporan ini saya Persembahkan kepada :
1.              Ayah dan Ibu tercinta yang selalu memberi motivasi, nasehat dan doa yang tulus untuk masa depanku.
2.              Kakak – kakakku terkasih yang selalu memberi dukungan sehingga terselesainya laporan ini.
3.              Sahabat – sahabat dan rekan kerja senasib sepenanggungan yang telah banyak membantu dan berperan serta sehingga terselesainya laporan ini.
4.              Semua guru – guruku yang telah ikhlas memberikan dan menstranfer ilmunya dengan baik.
5.              Almamaterku tercinta ( UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG ).
















iv
 
:
MOTTO:


HADAPI SEMUA KESULITAN DENGAN SENYUMAN. KARENA, SENYUMAN ADALAH MOTIVATOR TERAMPUH DALAM BELAJAR.










v
 
 
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT pencipta alam semesta beserta isinya, karena atas berkat, rahmat, hidayah dan inayahnya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini.
Laporan tugas akhir ini adalah merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang telah kami laksanakan di MTs. Syafi’iyah Besuk Kidul kecamatan Besuk kabupaten Probolinggo.
Dalam penyusunan dan penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan dan sumbangan spritual maupun material, oleh karena itu dengan penuh ikhlas dan hati yang tulus penulis mengucapkan terima kasih kepada yang  terhormat :
1.      Dekan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Universitas Kanjuruhan Malang.
2.      Ketua Jurusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kanjuruhan Malang.
3.      Kepala Madrasah Tsanawiyah Syafi’iyah Besuk Kidul Besuk Probolinggo.
4.      Bapak dan Ibu guru MTs. Syafi’iyah Besuk Kidul Besuk Probolinggo.
5.      Seluruh siswa-siswi MTs. Syafi’iyah Besuk Kidul Besuk Probolinggo.
6.      Seluruh rekan - rekanita PPL dan semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian penulisan laporan ini.
vi
 
Mudah-mudahan, segala hal yang diberikan dengan penuh ikhlas itu mendapat imbalan dari Allah SWT, Amin .......................!
“Tidak ada gading yang tak retak” Kami menyadari sepenuh hati bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang sekiranya dapat membangun demi kesempurnaan laporan ini akan kami terima dengan senang hati. Semoga laporan dapat memberikan manfaat kepada penulis khususnya, dan dunia pendidikan umumnya.


                                                                     Probolinggo,  13 April 2013


                                                                                         Penulis













vii
 
 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
SURAT KETERANGAN PPL ........................................................................ iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv
HALAMAN MOTTO....................................................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
DAFTAR ISI ...................................................................................................  viii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang .....................................................................................  1
1.2  Pengertian.............................................................................................  2
1.3  Tujuan...................................................................................................  2
1.4  Pentingnya Layanan Bimbingan Siswa................................................  3
BAB II : LAYANAN BIMBINGAN SISWA
2.1  Identifikasi Kasus.................................................................................  7
2.1.1    Pengumpulan Data.......................................................................   7     
2.1.2    Analisis........................................................................................   11
2.2  Diagnosis..............................................................................................  12
2.3  Prognosis .............................................................................................   12
2.4  Treatment.............. ..............................................................................   14
2.5  Tindak lanjut ........................................................................................  14
viii
 
BAB III : PENUTUP                                                                                      
3.1  Kesimpulan .........................................................................................   15
3.2  Saran-Saran .........................................................................................   16
3.3  Penutup ...............................................................................................   17
LAMPIRAN – LAMPIRAN
RENCANA PEMBELAJARAN



















ix



 
 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Selain  bertugas untuk  mengajar  seorang  guru  juga  dituntut  untuk mampu mendidik siswa sehingga  dapat  tercapai  apa  yang  diharapkan  dalam tujuan kurikulum pendidikan. Dan salah satu kegiatan lain dari seorang pendidik yaitu suatu kegiatan yang disebut dengan kegiatan bimbingan konseling ( BK ). Maka dari itu selama kegiatan  PPL berlangsung, peserta PPL selain melakukan latihan mengajar juga dituntut untuk  belajar  mengenai kasus  siswa yang mempunyai masalah siswa terutama yang   berhubungan  dengan    belajar siswa. Agar  tujuan itu  dapat  dicapai  maka  setiap kesulitan yang timbul dalam proses  belajar mengajar dapat segera di identifikasi / ditindak lanjuti dan segera diadakan perbaikan. Untuk   itu  berarti  setiap  pendidik  sangat  dituntut  sekali kemampuannya  untuk memenuhi dan mengatasi  serta  menguasai  secara penuh tehnik-tehnik dalam melakukan layanan bimbingan, karena hanya dengan cara dan langkah-langkah yang efektif, efisien dan otomatis yang akan mendapatkan hasil dari pada bimbingan dan konseling yang memuaskan.
1
 
Kemudian PPL melakukan kegiatan observasi dan wawancara dengan guru kelas, tujuannya agar mendapat gambaran tentang siapa yang akan dijadikan klien pada studi kasus tersebut, kemudian dilanjutkan oleh peserta PPL mengadakan pengamatan dan wawancara secara langsung terhadap klien sendiri, guru kelas dan teman akrab. Untuk memperoleh berbagai macam data dari klien. Pendataan ini dilakukan pada waktu diluar jam efektif belajar, seperti halnya jam istirahat atau setelah pulang sekolah agar kegiatan ini tidak mengganggu jalannya pembelajaran di sekolah.

1.2  PENGERTIAN
  Studi Kasus merupakan cara yang ditempuh untuk mengatasi penyimpangan tingkah laku siswa agar mampu mencari jalan keluar atau penyelesaian masalah yang benar - benar tepat. Guru sebagai konselor  dapat memegang teguh kode etik bimbingan yang dapat membantu siswa mengatasi permasalahannya.

1.3  TUJUAN
            Beberapa  tujuan diadakannya studi kasus yaitu antara lain :
  1. Untuk mengenal dan mengetahui latar belakang pribadi siswa / siswi yang mempunyai masalah.
  2. Memahami serta menetapkan jenis masalah, faktor penyebabnya dan cara pemecahannya. Baik secara penyembuhan ataupun pencegahan. Serta berdasar pada data dan informasi yang obyektif.
  3. Meningkatkan prestasi belajar siswa yang bermasalah.
  4. Membantu klien dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  5. Membantu siswa atau klien yang bermsalah dalam mencari sebuah jalan keluar yang nantinya sesuai dengan jalur pendidikan / etika sekolah. 


2
 
 
1.4  PENTINGNYA LAYANAN BIMBINGAN SISWA
3
 
                  Di dalam pendidikan sekolah tingkat lanjutan pertama kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilan akademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah Pertama/SMP) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal.
Penulis merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah
Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan menegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen. Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib. Siswa pembolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BK optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan hukum-menghukum.
4
 
Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.
BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.
Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan “gaji buta”. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam penanganannya.
5
 
BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu (baca: mau!) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai, ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah dan semua pihak yang terlibat dalam proses kependidikan


















6
 
 
BAB II
LAYANAN BIMBINGAN SISWA

2.1  IDENTIFIKASI KASUS
            Identifikasi ialah suatu kegiatan yang berupa ingin mengumpulkan data tentang siswa sebagai klien dengan lingkungan. Data siswa dapat dikumpulkan dari berbagai macam sumber serta dengan mempergunakan alat pengumpulan data yang memadai. Dalam hal ini langkah - langkah yang perlu  dilakukan seorang guru adalah :
1.)    Peserta PPL melakukan konsultasi dengan guru kelas tentang siswa yang akan dijadikan sebagai klien.
2.)    Peserta PPL melakukan wawancara atau pendekatan terhadap klien dengan maksud yaitu untuk memperoleh data yang diinginkan.
2.1.1        PENGUMPULAN DATA
            Untuk menunjang pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan, peserta PPL masih memerlukan data-data klien yang harus dikumpulkan. Prosesnya meliputi hal berikut  : 
1)      Nama Kasus : Pendiam/kurang aktif dalam kelas saat KBM
2)      Identitas Klien
Ø  Nama                                       : Umi Kulsum
Ø  Tempat / tgl. Lahir                   : probolinggo,12 Oktober 1998
Ø  Jenis Kelamin                          : Perempuan
Ø 
7
 
Alamat Rumah                        : Ranon – Besuk – Probolinggo
Ø  Sekolah                                    : MTs Syafi’iyah Besuk Kidul, Besuk
Ø  Kelas                                       : VIII (Delapan)
Ø  Agama                                     : Islam
Ø  Anak Ke                                  : 4 (empat)
3)      Keadaan Jasmani Dari Klien
Ø  Tinggi Badan                           : 150
Ø  Berat Badan                            : 48
Ø  Warna Kulit                             : Putih
Ø  Perkembangan jasmani            : Sehat
4)      Identitas Keluarga
Ø  Nama ayah                              : Nurhasan
Ø  Nama Ibu                                : Busani
Ø  Alamat                                     : Ranon Besuk Probolinggo
                                                         
Ø  Pendidikan terakhir                
Ayah                                       : SMP
Ibu                                           : SMP
Ø  Pekerjaan          
Ayah                                       : Tani
Ibu                                           : Dagang
Ø  Hubungan ayah / ibu               : Kandung

5)     
8
 
Keadaan Rumah
Ø  Fasilitas Rumah                       : Sepeda motor, Televisi,
Ø  Jumlah Penghuni                     : 5 Orang
6)      Data Pendukung
Ø  Jarak rumah Ke Sekolah          : 10 Km
Ø  Kendaraan                               : Sepeda Motor
Ø  Hobi                                        : Jalan - Jalan
7)      Hasil Observasi                             :
Ø  Dalam proses KBM berlangsung Klien merupakan anak yang pendiam
Ø  Klien kurang aktif dalam proses KBM
Ø  Klien Kurang minat membaca
8)      Komentar – Komentar                  :
Ø  Guru kelas
-          Terlihat nerves saat ditunjuk untuk menjawab pertanyaan secara lisan.
-          Kurang percaya diri,
-          Mengerjakan tugas kurang teliti.
Ø  Dari teman dekat atau akrab
-          Klien tidak percaya diri dengan jawaban sendiri, saat mengerjakan tugas
-          Dikelas selalu diam.
Ø  Dari orang tua
-          Cenderung main dalam rumah.
-          Jarang mengerjakan PR/  
Ø 
9
 
Klien
-          Malas belajar kalau pelajaran sulit
-          Malas mendengarkan penjelasan guru yang kurang jelas menerangkannya.
-          Merasa lelah saat pulang sekolah karena jarak rumah ke sekolah jauh.
9)          Dokumentasi Klien
Ø Asal Sekolah SD/MI               : SDN Ranon 1
Ø Tahun Lulus                            : 2011
Ø Tahun Masuk Ke MTs            : 2011
Ø Nilai Pelajaran Terakhir           : 1131















10
 
 
Tabel. Raport Klien Semester I Sewaktu Kelas VIII

No
Mata Pelajaran
KKM
Nilai Hasil Belajar
Angka
Huruf
1
Pendidikan Agama
(Qur’an Hadits)
70
78
Tujuh Puuh Delapan
2
Aqidah Akhlaq
70
79
Tujuh Puluh Sembilan
3
Fiqih
70
80
Delapan Puluh
4
SKI
70
75
Tujuh Puluh Lima
5
Pendidikan Kewarganegaraan
75
70
Tujuh Puluh
6
Bahasa Indonesia
75
75
Tujuh Puluh Lima
7
Bahasa Arab
70
70
Tujuh Puluh
8
Bahasa Inggris
70
75
Tujuh Puluh Lima
9
Ilmu Pengetahuan Alam
70
76
Tujuh Puluh Enam
10
Ilmu Pengetahuan Sosial
70
75
Tujuh Puluh Lima
11
Matematika
70
76
Tujuh Puluh Enam
12
Seni Budaya
75
75
Tujuh Puluh Lima
13
Pendidikan Jasmani & Kesehatan
70
80
Delapan Puluh
14
Pilihan :




a. TIK (Komputer)
70
70
Tujuh Puluh
15
Muatan Lokal :




a. Aswaja
70
77
 Tujuh Puluh Tujuh
















JUMLAH

1131
 Delapan Ratus Tiga

RATA - RATA

75
 Enam Dua

Peringkat Kelas Ke  25  Dari  32  Siswa

2.1.2        ANALISIS
            Analisis adalah tahap penyajian data yang diambil dari berbagai macam data. Dan pengumpulan data tersebut dapat dilakukan dengan menggunakn teknik-teknik sebagai berikut :
  1. Melalui studi dokumentasi yaitu data yang dicari dalam dokumentasi sekolah yang berupa nilai raport dan presentasi kelas.
  2. 11
     
    Teknik wawancara yaitu suatu cara yang digunakan dalam mencari data dengan memperoleh informasi dari orang lain yang di anggap mengerti tentang diri klien.
      Adapun hasil wawancara :
Ø  Wawancara dengan klien
Ø  Wawancara dengan guru kelas
Ø  Wawancara dengan teman akrab
  1. Teknik observasi yaitu suatu teknik untuk mengetahui secara langsung kegiatan siswa selama di sekolah.

2.2  DIAGNOSIS
Merupakan langkah untuk mengetahui sebab – sebab terjadinya kesulitan yang dihadapi oleh klien .berdasarkan data – data di atas, maka praktikan dapat  mengambil kesimpulan permasalahan yang di hadapi oleh klien dalam proses belajar mengajar sehingga prestasinya rendah, adapun penyebabnya adalah :
1.      klien malas belajar di rumah.
2.      klien mengeluh karena jauhnya jarak rumah ke sekolah
3.      klien kurang percaya diri
4.      klien malas mendengarkan penjelasan guru
5.      klien memiliki sikap pemalu.
6.      Kurang teliti dalam mengerjakan soal soal saat ujian.
2.3  PROGNOSIS
Progonosis adalah suatu langkah yamh di ambil untuk menetapkan jenis bantuan yang dapat di berikan kepada klien. Jenis bantuan yang dapat di berikan oleh praktikan sesuai dengan permasalahan yang di hadapi klien antar lain :
a.      
12
 
memberi motivasi untuk lebih giat belajar di rumah
b.          memberiakan semangat kepada klien untuk terus semangat percaya diri.
c.           Memerian tips kepada klien dalam rangka meningkatkan percaya diri.
d.          memberi perhatian khusus kepada klien dengan memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan di dalam kelas agar anak aktif.
e.           Memberikan pertanyaan lisan yang mudah kepada klien saat KBM, guna membuat klien semangat dan menumbuhkan percaya diri.
f.       memberi nasehat kepada klien untuk sebaiknya tinggal di asrama gunu menghilangkan rasa lelah karena jauhnya jarak rumah ke sekolah.
g.      memberikan nasehat agar selalu memperhatikan pada saat KBM berlangsung

2.4 PEMBERIAN BANTUAN (TREATMENT)
Pemberian bantuan kepada klien berdasarkan hasil progonis. Adapun jenis bantuan yang dapat diberikan adalah :
·         Memberikan perhatian khusus pada klien waktu Sekolah.
·         Mengajak klien berbicara masalah pelajaran  guna menghilangkan sikap pendiam.
·         Menyerankan klien kalau mendapat kesulitan dalam pelajaran agar bertanya pada guru.
·         Memancing klien dengan memberikan reward pada anak yang aktif,dan sering bertanya saat KBM.
·        
13
 
Memberi motivasi belajar pada Klien dengan reward dan cerita tokoh yang berhasil dan sukses.
·         Menyarankan agar belajar kelompok
·         Memberi pengertian bahwa pada waktu guru menerangkan harus betul – betul memperhatikan.

2.5  TINDAK LANJUT ( FOLLOW UP )
Follow Up adalah suatu langkah untuk mengetahui keberhasilan layanan bimbingan yang telah diberikan kepada klien.
Untuk melihat hasil akhir pada langkah ini tidak bisa langsung dilihat secara keseluruhan, tetapi sedikit demi sedikit peserta sudah bisa melihat adanya perubahan pada diri klien . untuk langkah selanjutnya , Peserta PPL melimpahkan kepada guru kelas untuk melanjutkan proses bimbingan sehingga mencapai keberhasilan klien. Karena masa PPL bagi semua peserta hanya berlangsung 2 bulan Setengah.
Demikian studi kasus kami buat dengan harapan bermanfaat bagi kita dan klien sehinga dapat menyelesaikan segala permasalahan sendiri dan dapat mengembangkan segala potensi pada dirinya




14
 
 
BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
    Untuk mendapatkan mutu pendidikan , diperlukan profesionalisme seorang pendidik yang baik. Profesionalisme yang dimaksudatau diupayakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Strata 1  Universitas Kanjuruhan Malang adalah Prakterk Pengalaman Lapangan  ( PPL ) di Sekolah khususnya di Sekolah MTs. Syafi’iyah Besuk Kidul Besuk Probolinggo.
    Dengan adanya pembekalan dan praktek mengajar inilah diharapkan dapat mencapai mutu profesionalisme guru yang memadai, oleh karena itulah Mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang mengikuti kegiatan Praktek Pengalam Lapangan ( PPL ) sebagai latihan keguruan yang nantinya dapat menjadi guru yang baik dan memenuhi kompetensi guru yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan juga tuntutan dari negara kita  yaitu negara Indonesia.
    Dari  progam praktek pengalaman inilah kami banyak memperoleh banyak pengalaman yang secara langsung yang didapat dari lapangan / lembaga pendidikan. Bertitik tolak dati uraian diatas, maka kami dapat memberikan berbagai macam kesimpulan yang diantaranya sebagai berikut :
  1. 15
     
    PPL (Praktek Penglaman Lapangan) merupakan progam yang bertujuan untuk mendapatkan pengalaman – pengalaman pendidikan secara faktual dilembaga pendidikan / lapangan sebagai wahana terbentuknya tenaga kepedidikan.
  2. PPL (Praktek Penglaman Lapangan) dapat menyiapkan seorang calon guru  yang mampu melaksanakan tugas sebagai seorang guru yang profesional.
  3. PPL (Praktek Penglaman Lapangan) dapat memberikan pengalaman secara langsung baik didalam proses belajar mengajar maupun administrasi kependidikan lainnya.
  4. PPL (Praktek Penglaman Lapangan) merupakan waktu yang tepat untuk dapat menemukan dan menerapkan teori - teori yang kami terima dari kampus / fakultas , kemudian disesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah / lapangan.
  5. Guna bagi semua peserta  yang melaksanakan progam Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)   ini yaitu sebagai latihan untuk dapat memecahkan berbagai macam masalah yang timbul dari proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

3.2  SARAN – SARAN
16
 
        Dengan tersusunnya sebuah laporan ini , kami mengaharap dapat digunakan sebagai literature bagi sekolah yang ditempati para peserta PPl maupun bagi  bidang studi  Guru MTs/SMP Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Universitas Kanjuruhan Malang . Kemudian juga semoga dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk penyempurnaan yang dirasa perlu bagi sekolah maupun progam.
3.3  PENUTUP
  Demikian laporan ini kami susun guna memenuhi persyaratan penyelesaian kegiatan akademik guna menempuh ujian Praktek Pengalaman Lapangan  (PPL) di Sekolah MTs. Syafi’iyah Besuk Kidul Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo.Dalam hal ini semua data yang kami susun / buat ini merupakan perolehan dari hasil observasi selama progam Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan.
  Mudah - mudahan semua yang telah kami susun / yang telah kami progam dapat mencapai semua tujuan yang dapat berjalan dengan baik khususnya bagi kami selaku seorang calon guru. Kami peserta PPL yang sudah terjun di lembaga MTs. Syafi’iyah Besuk Kidul, Besuk. sangat diharapkan untuk dapat meningkatkan dedikasi serta loyalitas terhadap beberapa tugas guru sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, diharapkan pula untuk lebih meningkatkan lagi konpetensi professional seorang guru. Dan juga diharapkan agar dapat menjadi manager kelas yang handal dan sehingga nanti pada gilirannya tujuan pendidikan khususnya di sekolah akan tercapai.
  Kami sangat menyadari bahwasannya didalam penyusunan sebuah laporan tentang  kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan ini masih banyak sekali terdapat kekurangan - kekurangan ataupun ketidaksempurnaan.






17
 


9
 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar